KLD Halida



Penulis : Tami Asyifa
Editor   : Windy Effendy

Orang Biasa yang Suka Menulis


Membaca branding sahabat KLIP yang satu ini rasanya suka banget. Langsung saja, segera menjadi judul rubrik Kenal Lebih Dekat (KLD) sesi usai liburan Ramadan dan Idulfitri kali ini.

"Orang biasa yang suka menulis karena tidak suka menggambar".
Demikian jawaban bintang KLD ini ketika ditanya hal apa yang menggambarkan dirinya. Orang biasa yang sudah sejak 2021 menjadi lulusan KLIP bahkan beberapa kali menjadi lulusan terbaik dengan badge outstanding di akhir tahun.

Pencapaian tiap bulannya selama tiga tahun bergabung di KLIP juga enggak main-main. Namanya selalu berada di urutan atas peraih badge kuning dan tercatat sebagai penyetor terbanyak. Du … du … du … jadi penasaran. Siapakah dia?
   
Apresiasi Halida


Sang Perantau: dari Malang ke Braunschweig


Halida Umi Balkis, nama yang tidak asing bagi sebagian besar member komunitas Ibu Profesional, terlebih dengan amanah yang diembannya sebagai sekretaris jenderal (sekjen). Biasanya sih, cukup dipanggil Mbak Halida atau Mbak Hal biar terdengar lebih akrab gitu.

Merantau, tak lagi menjadi hal baru bagi perempuan kelahiran Malang pada 22 Syaban ini. Setelah menamatkan Madrasah Tsanawiyah Negeri 1 Malang—yang sebelumnya telah lulus dari Bustanul Athfal Restu Malang dan Madrasah Ibtidaiyah Negeri 1 Malang, Mba Halida merantau ke Serpong untuk masuk asrama MAN Insan Cendekia dan kemudian meneruskan pendidikannya di Universitas Indonesia, Depok.

Usai menuntaskan pendidikan, perantauannya berlanjut ke beberapa kota di Indonesia hingga mancanegara. Dari Waingapu, Bandung, Balikpapan, dan Bandar Lampung, hingga akhirnya untuk sementara ini berlabuh di Braunschweig, Jerman. Boleh, kok, tanya Om Google Map di mana letak persisnya. Siapa tahu suatu hari nanti kita bisa mengunjunginya untuk kenal lebih dekat lagi dan bisa tanya-tanya gimana sih ceritanya, kok bisa sampai Braunschweig.

Suka Menulis, Tidak Bisa Menggambar


Membuat branding dirinya sebagai orang biasa yang suka menulis karena tidak bisa menggambar, memang Mbak Halida banget, meski sebenarnya perempuan satu ini bukan orang biasa. Dia lebih tepat disebut sebagai perempuan luar biasa. Selalu ramah dengan senyum,suka menyapa dengan segar di beberapa WhatsApp grup, dan menjalankan perannya dengan baik sebagai seorang integrator di komunitas dari negeri yang jauh di sana.

Kegiatan literasi sudah akrab dengannya sejak sekolah menengah pertama. Saat menjadi siswi MTs negeri 1 Malang, Mbak Hal sudah berkecimpung di bidang literasi dengan menerbitkan buletin kelas dan menghidupkan kembali majalah sekolah. Selain itu Mbak Hal juga mengikuti ekstrakurikuler jurnalistik. Mbak Hal konsisten di bidang literasi hingga kuliah dengan berbagai peran, seperti menjadi divisi media saat gabung organisasi/paguyuban, menjadi pemimpin redaksi di surat kabar kesehatan (Media Aesculapius), juga menjadi pengelola blog—tandem bersama seorang sahabatnya.

Aktif pada dunia literasi sejak muda usia itulah yang menjadi motivasi untuk bergabung di KLIP. Dia merasa sejak menikah aktivitas literasinya jauh berkurang dibanding sebelumnya. Wah, pas banget, ya,Bu…! Ikutan KLIP kan bisa dari rumah, di mana saja, dan bisa sambil melakukan aktivitas sehari-hari sesuai profesi. Apalagi kemudian bakat dan passion pun terfasilitasi. Dari pengalaman menyenangkan selama berliterasi sejak belia itulah, Mbak Hal ingin menyalakan kembali aktivitas literasinya melalui KLIP. Menurutnya, dampak dari karya literasi memang semenyenangkan itu. Selain mendapat inspirasi, koneksi, refleksi, juga komisi—eh.

Lebih lanjut, kata Mbak Halida, semua tentang literasi membuatnya berbinar. Terlebih saat berada jauh dari keluarga dan teman dekat di tanah air seperti saat ini. Banyak peristiwa yang bisa diabadikan lewat tulisan agar kelak bisa menjadi kenangan.

"Pokoknya seneng kalau baca tulisan-tulisan lama, serasa dapat energi dari masa lalu. Jadi mau nulis lagi supaya di masa depan bisa berterima kasih pada diri sendiri yang mau repot-repot mengabadikan pikiran dan perasaan."

Suatu waktu, tim ketua kelas begitu takjub dengan capaian Mbak Hal sebagai penyetor terbanyak dan jumlah kata terbanyak juga. Apa saja, sih, yang ditulis Mbak Halida? Itu pertanyaan iseng kami, ya. Ternyata tema tulisan atau genre yang menurutnya lebih seru dan asyik ditulis adalah yang lebih ke humaniora, yaitu memasukkan unsur humanis ke dalam tulisan. Mungkin karena Mbak Hal dulu lebih banyak membaca novel.

Pencapaian Selama Suka Menulis

  
Sertifikat Halida


Semangat untuk aktif kembali di bidang literasi membawa Mbak Halida bergabung di KLIP dan lulus KLIP 3 tahun berturut-turut. Yeeei … ! Mbak Hal juga berani ikut lomba, seperti menulis artikel, esai, read aloud, dan lomba kepenulisan lainnya. Selain itu, Mbak Hal pun mendapat kesempatan menuliskan biografi profesor yang sudah almarhum sebelum Mbak Halida lahir. Gimana, tuh, pasti butuh perjuangan banget, ya.

Mbak Hal juga telah menulis pada beberapa antologi, salah satunya berjudul Jejak Muslimah di Penjuru Dunia. Dari hasil menulis, Mbak Hal juga membuat rekening terisi, dan bisa membeli ponsel serta hadiah buat ibunya. Tulisan-tulisannya juga biasa dibikin kado yang ternyata disukai oleh penerimanya. Mbak Hal membuktikan bahwa definisi berbagi dengan tulisan nyatanya juga bisa membahagiakan orang lain. 

Zona Waktu dan Tantangan Menulis


Berada jauh di Benua Biru, tentunya menjadi tantangan tersendiri ketika mengikuti kegiatan yang berbasis di tanah air. Salah satunya, perbedaan waktu. Beda zona waktu ini menjadi kendala karena di sana masih pagi sementara di Indonesia sudah sore. Terkadang ini suka membuatnya lupa bahwa ada kegiatan offline di jam rawan. Selain zona waktu, tantangan berikutnya adalah kebiasaan setor tulisan tiap hari yang menjadi sebuah rutinitas. Hal itu membuatnya lebih susah mengubah ke standar 10 hingga 20 tulisan per bulan dengan tulisan-tulisan yang lebih berkualitas. Keasyikan cerita seputar daily life juga membuat Mbak Halida merasa jiwa reporternya kurang terasah lagi, sampai hampir tidak pernah dengan sengaja mencari topik di luar rutinitas untuk dibagikan ke pembaca.

Mbak Halida yakin bahwa apa pun aktivitasnya akan bisa mendekatkan diri pada keridaan Ilahi. Perlahan tapi pasti, akan bisa menghadapi semua tantangan ini! Semangat!

Penutup


Menjadi orang biasa yang suka menulis karena tidak bisa menggambar itu bisa banget. Kedua hal itu sama-sama mengasah kreativitas kita. Bahkan kalau bisa menguasai keduanya, kita jadi komikus, dong, he-he-he. Nah, salah satunya saja pun tak masalah, baik menjadi penulis atau pelukis. Menjadi apa pun dengan kreativitas itu membahagiakan kok, baik bagi diri sendiri maupun orang lain.

Terakhir, Mbak Halidah menitipkan harapan kepada KLIP.

"Untuk KLIP, tetap semangat! Fokus pada yang membahagiakan. Nikmati prosesnya. Banyakin sinergi, semoga makin gembira karena berbagi."
Yuk, teman-teman, mari berbahagia dengan pilihan kita dan menikmati proses selama setahun konsisten menulis bareng KLP.


Ah, iya. Boleh kepo lebih jauh dengan Mbak Halida melalui:
FB: Halida Umi Balkis
IG: @halidabalkis
YT: Halida Balkis
Blog: halidew.tumblr.com